Kamis, 29 November 2012

Kisah Kemuliaan Akhlak Al-Habib Umar bin Hafidz


Kisah Kemuliaan Akhlak Al-Habib Umar bin Hafidz



Berikut adalah pengalaman al-Habib Ahmad bin Muhammad al-Kaf yang tak terlupakan tentang Kisah Kemuliaan Guru Mulia al-Habib Umar bin Hafidz. Beliau menuturkan:
“Waktu itu pertengahan April 1994 musim dingin di Tarim Hadhramaut mulai menyapa kami yang memang kami belum terbiasa dengan dinginnya cuaca Tarim ketika musim dingin. Al-Habib Umar pun telah menyiapkan untuk kami, para santrinya dari Indonesia yang waktu itu sangatlah manja, sebuah selimut tebal yang mahal. Masing-masing dari kami mendapatkan satu selimut.
Kisah pun bermula seperti biasa selepas Ashar kami dan al-Habib Umar menuju kota Tarim untuk menghadiri rauhah dan maulid di kota tersebut. Selepas acara kami pun kembali ke kediaman al-Habib Umar di kota Aidid. Biasanya kami pulang larut malam. Dan karena pada waktu itu al-Habib Umar hanya memiliki satu mobil maka kami pun selalu berebutan untuk menaiki mobil tersebut. Terkadang mobil Nisan Patrol tersebut dimuat oleh 20 orang lebih sehingga penuh di dalam dan di atas mobil.
Kami berebut karena memang jika kami tidak dapat tempat di mobil tersebut terpaksa kami akan pulang dengan berjalan kaki yangg berjarak 5 km kurang lebih. Saya dan dua teman saya pada waktu itu kurang beruntung. Kami bertiga berjalan kaki untuk pulang ke rumah al-Habib Umar.
Sesampainya kami di tempat al-Habib Umar kami mendapati teman-teman kami yang lain telah mendapatkan selimut yang tebal yang baru saja dibagikan oleh al-Habib Umar. Kami pun bergegas menemui al-Habib Umar. Tapi lagi-lagi kami kurang beruntung karena selimutnya telah habis.
al-Habib Umar mengatakan bahwa toko penjual selimutnya kehabisan stok dan berjanji akan memenuhi kekurangannya besok pagi. Kami pun pamit kepada beliau untuk tidur.
Tapi sebelum kami pergi al-Habib Umar menyuruh kami untuk menunggu. Kami pun menunggu al-Habib Umar yang masuk ke dalam rumahnya.
Beberapa saat kemudian al-Habib Umar pun keluar dengan membawa beberapa selimut tipis dan lusuh dan membagikannya kepada kami bertiga. Kami pun menerima selimut itu tanpa pikir panjang. Lalu kami pun pulang menuju asrama yang berada tepat di belakang rumah al-Habib Umar. Kami pun membagi-bagikan selimut tipis dan lusuh pemberian al-Habib Umar yang berjumlah 2 selimut besar dan 3 selimut kecil untuk kami bertiga.
Baru saja kami meluruskan badan untuk tidur terdengar tangisan bayi yang tak henti-hentinya yang kami yakin itu adalah tangisan anak al-Habib Umar yang masih bayi pada waktu itu. Kami pun sempat bertanya-tanya dalam hati kenapa bayi itu menangis sepanjang malam, sambil tetap berusaha untuk memejamkan mata.
Menjelang Shubuh suara tangisan bayi pun berhenti. Mungkin karena kelelahan menangis sepanjang malam. Kami pun bergegas menuju ke masjid Aidid yang terletak persis di depan rumah al-Habib Umar sambil membawa kitab nahwu yang akan kami pelajari setelah shalat Shubuh di bawah bimbingan langsung al-Habib Umar.
Setelah selesai belajar nahwu kami pun pulang ke asrama kami. Di pertengahan jalan kami bertemu dengan al-Habib Salim anak dari al-Habib Umar bin Hafidz yang waktu itu masih berusia 6 tahun, kami pun menyapa dan bertanya: “Wahai Salim mengapa adik bayimu menangis tak henti-hentinya tadi malam, apakah dia sakit?”
Habib Salim pun menjawab: “Tidak, adikku tidak sakit.”
“Lalu apa yangg membuatnya menangis?”
Dengan keluguannya Salim pun menjawab:  “Mungkin karena kedinginan, karena semalam kami sekeluarga tidur tanpa selimut.”
Bagai tersambar petir kami terkejut mendengar ucapan polos tersebut. Kami pun berlari menuju asrama untuk mengambil selimut lusuh yang ternyata milik keluarga al-Habib Umar yang beliau berikan kepada kami. Beliau al-Habib Umar sekeluarga rela tidur tanpa selimut di dinginnya malam kota Tarim demi anak-anak muridnya.
Kami kembalikan selimut tersebut kepada al-Habib Umar sambil membendung air mata dan tanpa tahu harus berkata apa. Dengan senyum dan seolah-olah tak terjadi apa-apa al-Habib Umar menerima selimut dari kami dan menggantikan selimut tersebut dengan yang baru yang baru saja dikirim oleh pemilik toko.
Kami pun kembali ke asrama tanpa dapat membendung lagi air mata kami yang melihat kemuliaan yang beliau berikan kepada kami. Sambil berkata di dalam hati: “Ya Allah ternyata di abad ini masih ada orang yang berhati begitu mulia seperti beliau. Terimakasih ya Allah yang telah mempertemukan aku dengan manusia mulia di kehidupanku ini.”


Ditulis ulang oleh Sya’roni as-Samfuriy, 15 Muharram 1434 H

Rabu, 28 November 2012

Ulama Terbesar Saudi pun Hormati Gus Dur


Kunjungan Gus Dur ke Kediaman Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki



Ulama yang sangat dihormati di Saudi Arabia, dalam satu negara yang menganut faham Wahabi, Prof. Dr. Al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, yang muridnya tersebar di seluruh dunia, memberi penghormatan pribadi kepada Gus Dur ketika berkunjung ke kediamannya.
Besarnya pengaruh ulama yang mendalami madzhab Maliki ini telah berlangsung sejak dahulu. Lima orang kakek pendahulunya merupakan pemuka madzhab Imam Maliki di Makkah. Raja Saudi Arabia Faishal, tak akan membuat kebijakan terkait dengan Masjidil Haram sebelum berkonsultasi dengannya. Beliau belajar di al-Azhar Mesir dan memperoleh gelar Doktor pada usia 25 tahun, yang merupakan orang Saudi pertama yang mencapai gelar akademik tertinggi pada usia termuda. Sebagai seorang akademisi, ia telah mengarang lebih dari 100 kitab. Muridnya tersebar di seluruh dunia, terutama berasal dari Indonesia, Malaysia, Mesir, Yaman dan Dubai. Mereka yang belajar di pesantrennya difasilitasi penuh olehnya.
As-Sayyid muhammad bin Alawi al-Maliki meninggal tahun 2004 dan upacara penguburannya merupakan yang terbesar dalam 100 tahun belakangan. Radio Arab Saudi selama tiga hari penuh hanya memutar al-Qur’an untuk menghormatinya.
Ayahnya, Sayid Alwi bin Abbas al-Maliki adalah guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari. Dia juga pernah menjadi guru besar di Masjidil Haram pada 1930-an dan 40-an dan merupakan ulama terbesar pada zamannya. Banyak ulama sepuh dari Nahdlatul Ulama yang menimba ilmu dari Sayyid Alwi al-Maliki yang merupakan ahli hadits.s
Penghormatan kepada Gus Dur, yang waktu itu masih menjabat sebagai ketua umum PBNU, oleh orang terhormat ini dituturkan oleh KH. Said Aqil Siroj, yang waktu itu menemaninya bersama Ghofar Rahman, sekjen Gus Dur dalam satu kunjungan ke Mekkah.
Sebagai ulama terkemuka, Sayyid Muhammad al-Maliki selalu dikunjungi oleh tamu dari berbagai negara. Waktu Gus Dur datang ke kediamannya, di ruang tamu sudah banyak sekali orang yang mengantri. Begitu Gus Dur datang, ia langsung dipersilahkan masuk, bahkan diajak berbincang di kamar tidur pribadinya, bukan di ruang tamu. Gus Dur dikasih uang, arloji mewah dan barang berharga lainnya sebagai tanda penghormatan.
Dalam pertemuan tersebut, Kiai Said mengggambarkan, “Begitu hormatnya mereka berdua. Dan mereka bukan orang sembarangan.




Ritual Gus Dur dan Rahasia Kewaliannya

Mengenai ritual Gus Dur dan rahasia kewaliannya bisa Anda baca dalam tulisannya KH. Gus Nuril Arifin berikut ini:
Sya’roni as-Samfuriy, Indramayu 14 Muharram 1434 H

Shalawat dengan 201 Nama Rasulullah Saw.


Shalawat dengan 201 Nama Rasulullah Saw.



Berikut adalah tata cara membaca shalawat dengan 201 Nama Rasululllah Saw. yang disadur dari kitab Dalailul Khairat. Sengaja kami tuliskan menggunakan huruf Indonesia meneruskan edisi sebelumnya yang menggunakan huruf Arab, agar lebih mudah dibaca bagi handphone-handphone yang belum pernah mondok dan atau bagi yang belum bisa membaca dan menulis Arab.:

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin. Wahasbiyallaahu wa ni'mal wakiil. Walaa haula walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'adziim. Allaahumma innii ubri-u ilaika min hauli wa quwwati ilaa haulika wa quwwatika. Allaahumma innii  aqrabu ilaika bish-shalaati 'alaa sayyidinaa Muhammadin 'abdika wa nabiyyika wa rasuulika sayyidil mursaliin shallallaahu 'alaihi wa 'alaihim ajma'iina imtitsaalan li amrika wa tash-diiqan lahu mahabbatan fiihi wa syauqan ilaihi wa sallama ahlan lidzaalika fataqabbalhaa minnii bifadhlika waj'alnii min 'ibaadikashshaalihiin. Wawaffiqnii liqira-atika 'aladdawaami bijaahihi 'indaka wa shallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa aalihi wa shahbihii ajma'iin.
Allaahumma shalli wasallim 'alaa man ismuhuu:
1.      Sayyiduna Muhammad,
2.      Sayyiduna Ahmad,
3.      Sayyiduna Haamid,
4.      Sayyiduna Mahmuud,
5.      Sayyiduna Ahiid,
6.      Sayyiduna Wahiid,
7.      Sayyiduna Maahin ,
8.      Sayyiduna Haasyir,
9.      Sayyiduna 'Aaqib,
10.  Sayyiduna Thaaha,
11.  Sayyiduna Yaasiin,
12.  Sayyiduna Thaahir,
13.  Sayyiduna Muthahhir,
14.  Sayyiduna Thayyib,
15.  Sayyiduna Sayyid,
16.  Sayyiduna Rasuul,
17.  Sayyiduna Nabiy,
18.  Sayyiduna Rasuulurrahmah,
19.  Sayyiduna Qayyim,
20.  Sayyiduna Jaami',
21.  Sayyiduna Muqtafi,
22.  Sayyiduna Muqaffa,
23.  Sayyiduna Rasuulul Malaahim,
24.  Sayyiduna Rasulurraahah,
25.  Sayyiduna Kaamil,
26.  Sayyiduna Ikliil,
27.  Sayyiduna Muzammil,
28.  Sayyiduna 'Abdullaah,
29.  Sayyiduna Habiibullaah,
30.  Sayyiduna Shafiyyullaah,
31.  Sayyiduna Najiyyullaah,
32.  Sayyiduna Kaliimullaah,
33.  Sayyiduna Khaatamul Anbiya,
34.  Sayyiduna Khaatamurrusli,
35.  Sayyiduna Muhyii,
36.  Sayyiduna Munjin,
37.  Sayyiduna Mudzakkir,
38.  Sayyiduna Naashir,
39.  Sayyiduna Manshuur
40.  Sayyiduna Nabiyyurrahmah,
41.  Sayyiduna Nabiyyuttaubah,
42.  Sayyiduna Hariishun 'alaikum,
43.  Sayyiduna Ma'luum,
44.  Sayyiduna Syaahir,
45.  Sayyiduna Syaahid,
46.  Sayyiduna Syahiid,
47.  Sayyiduna Masyhuud,
48.  Sayyiduna Basyiir,
49.  Sayyiduna Mubasysyir,
50.  Sayyiduna Nadziir,
51.  Sayyiduna Mundziir,
52.  Sayyiduna Nuur,
53.  Sayyiduna Siraaj,
54.  Sayyiduna Mishbaah,
55.  Sayyiduna Hudaa,
56.  Sayyiduna Mahdiy,
57.  Sayyiduna Muniir,
58.  Sayyiduna Daa'in,
59.  Sayyiduna Mad'uu,
60.  Sayyiduna Mujiib,
61.  Sayyiduna Mujaab,
62.  Sayyiduna Hafiyy,
63.  Sayyiduna 'Afuwwu,
64.  Sayyiduna Waliyy,
65.  Sayyiduna Haqq,
66.  Sayyiduna Qawiyy,
67.  Sayyiduna Amiin,
68.  Sayyiduna Ma-muun,
69.  Sayyiduna Kariim,
70.  Sayyiduna Mukarram,
71.  Sayyiduna Makiin,
72.  Sayyiduna Matiin,
73.  Sayyiduna Mubiin,
74.  Sayyiduna Muammil,
75.  Sayyiduna Wushuul,
76.  Sayyiduna Dzuu Quwwah,
77.  Sayyiduna Dzuu Hurmah,
78.  Sayyiduna Dzuu Makaanah,
79.  Sayyiduna Dzuu 'Izzin,
80.  Sayyiduna Dzuu Fadhl,
81.  Sayyiduna Muthaa',
82.  Sayyiduna Muthii',
83.  Sayyiduna Qadam,
84.  Sayyiduna Shidqun,
85.  Sayyiduna Rahmah,
86.  Sayyiduna Busyraa,
87.  Sayyiduna Ghauts,
88.  Sayyiduna Ghaits,
89.  Sayyiduna Ghiyaats,
90.  Sayyiduna Ni'matullaah,
91.  Sayyiduna Hidaayatullaah,
92.  Sayyiduna ‘Urwatul Wutsqaa,
93.  Sayyiduna Shiraatullaah,
94.  Sayyiduna Shiraathun Mustaqiim,
95.  Sayyiduna Dzikrullaah,
96.  Sayyiduna Saifullaah,
97.  Sayyiduna Hizbullaah,
98.  Sayyiduna An-Najmuts Tsaaqib,
99.  Sayyiduna Musthafaa,
100.          Sayyiduna Mujtabaa,
101.          Sayyiduna Muntaqaa,
102.          Sayyiduna Ummiy,
103.          Sayyiduna Mukhtaar,
104.          Sayyiduna Ajiir,
105.          Sayyiduna Jabbaar,
106.          Sayyiduna Abul Qaasim,
107.          Sayyiduna Abuth Thaahir,
108.          Sayyiduna Abuth Thayyib,
109.          Sayyiduna Abu Ibraahiim,
110.          Sayyiduna Musyaffa',
111.          Sayyiduna Syafii',
112.          Sayyiduna Shaalih,
113.          Sayyiduna Mushlih,
114.          Sayyiduna Muhaimin,
115.          Sayyiduna Shaadiq,
116.          Sayyiduna Mushaddiq,
117.          Sayyiduna Shidq,
118.          Sayyiduna Sayyidul Mursaliin,
119.          Sayyiduna Imaamul Muttaqiin,
120.          Sayyiduna Qaidul Ghurril Muhajjaliin,
121.          Sayyiduna Khaliilur Rahmaan,
122.          Sayyiduna Baa-rri,
123.          Sayyiduna Mubarru,
124.          Sayyiduna Wajiih,
125.          Sayyiduna Nashiih,
126.          Sayyiduna Naashih,
127.          Sayyiduna Wakiil,
128.          Sayyiduna Mutawakil,
129.          Sayyiduna Kafiil,
130.          Sayyiduna Syafiiq,
131.          Sayyiduna Muqiimus Sunnah,
132.          Sayyiduna Muqaddas,
133.          Sayyiduna Ruuhul Qudus,
134.          Sayyiduna Ruuhul Haqqi,
135.          Sayyiduna Ruuhul Qisthi,
136.          Sayyiduna Kaafin,
137.          Sayyiduna Muktafi,
138.          Sayyiduna Baliigh,
139.          Sayyiduna Muballigh,
140.          Sayyiduna Syaafin,
141.          Sayyiduna Waashil,
142.          Sayyiduna Maushuul,
143.          Sayyiduna Saa-iq,
144.          Sayyiduna Haadin,
145.          Sayyiduna Muhdin,
146.          Sayyiduna Muqaddam,
147.          Sayyiduna 'Aziiz,
148.          Sayyiduna Faadhil,
149.          Sayyiduna Mufadhdhal,
150.          Sayyiduna Faatih,
151.          Sayyiduna Miftaah,
152.          Sayyiduna Miftaahur Rahmah,
153.          Sayyiduna Miftaahul Jannah,
154.          Sayyiduna 'Alamul Iimaan,
155.          Sayyiduna 'Alamul Yaqiin,
156.          Sayyiduna Daliilul Khairaat,
157.          Sayyiduna Mushahhihul Hasanaat,
158.          Sayyiduna Muqiilul 'Atsaraat,
159.          Shafuuhun 'aniz-Zallaat,
160.          Shaahibusy Syafaa’aat,
161.          Sayyiduna Shaahibul Maqaam,
162.          Sayyiduna Shahuubul Qadam,
163.          Sayyiduna Makhshuushun bil 'Izzi,
164.          Sayyiduna Makhshuushun bil Majdi,
165.          Sayyiduna Makhshuushun bisy Syarafi,
166.          Sayyiduna Shaahibul Wasiilah,
167.          Sayyiduna Shaahibus Saifi,
168.          Sayyiduna Shaahibul Fadhiilah
169.          Sayyiduna Shaahibul Izaar,
170.          Sayyiduna Shaahibul Hujjah,
171.          Sayyiduna Shaahibus Sulthaan,
172.          Sayyiduna Shaahibur Riddaa-i,
173.          Sayyiduna Shaahibud Darajatir Raafi’ah
174.          Sayyiduna Shaahibut Taaj
175.          Sayyiduna Shaahibul Mighfaar
176.          Sayyiduna Shaahibul Liwaa-i
177.          Sayyiduna Shaahibul Mi'raaj
178.          Sayyiduna Shaahibul Qadhiib,
179.          Sayyiduna Shaahibul Buraaq,
180.          Sayyiduna Shaahibul Khaatim,
181.          Sayyiduna Shaahibul 'Allaamah,
182.          Sayyiduna Shaahibul Burhaan,
183.          Sayyiduna Shaahibul Bayaan,
184.          Sayyiduna Fashiihul Lisan,
185.          Sayyiduna Muthahhirul Janaan,
186.          Sayyiduna Ra-uufun,
187.          Sayyiduna Rahiim,
188.          Sayyiduna Udzunul Khair,
189.          Sayyiduna Shahiihul Islaam,
190.          Sayyiduna Sayyidul Kaunain,
191.          Sayyiduna ‘Ainun Na'iim,
192.          Sayyiduna ‘Ainul Ghurri,
193.          Sayyiduna Sa'dullah,
194.          Sayyiduna Sa'dul Khalqi,
195.          Sayyiduna Khaathibul Umam,
196.          Sayyiduna 'Alamul Huda,
197.          Sayyiduna Kasyiiful Kurab,
198.          Sayyiduna Rafii'ur Rutab,
199.          Sayyiduna 'Izzul 'Arab,
200.          Sayyiduna Shaahibul Faraj,
201.          Sayyiduna Kariimul Makhraj

Sayyiduna Asyraful Anbiyaa wal Mursaliin. Walhamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Allaahumma yaa Rabbi bijaahi nabiyyikal musthafa warasuulikal murthadha thahhir quluubanaa min kulli washfin yubaa'iduna 'an musyaahadatika wamahhabatika wa amitnaa 'alas sunnati wal  jamaa'ati wasysyauqi ilaa liqaa-ika yaa dzal jalaali wal ikraam. Washallallaahu 'alaa sayyidinaa wasallama tasliiman walhamdulillaahi rabbil 'aalamin.

Catatan: Setiap kali menyebut asma Rasulullah haruslah diiringi dengan “Shallallaahu ‘alaihi wassallam.”

Sya’roni as-Samfuriy, Indramayu 14 Muharram 1434 H