Tampilkan postingan dengan label DAMAI ITU INDAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DAMAI ITU INDAH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Januari 2013

PROFIL GURU MULIA AL-HABIB ALI BIN ABDURRAHMAN AL-JUFRI



PROFIL GURU MULIA AL-HABIB ALI BIN ABDURRAHMAN AL-JUFRI

 

Penampilan Fisik Al-Habib Ali Al-Jufri

Penampilan fisiknya mengagumkan: tampan, berkulit putih, tinggi, besar, berjenggot tebal dan rapi tanpa kumis. Wajar jika kehadirannya di suatu majelis selalu menonjol dan menyita perhatian orang.

Tetapi kelebihannya bukan hanya itu. Kalau sudah berbicara di forum, orang akan terkagum-kagum lagi dengan kelebihan-kelebihannya yang lain. Intonasi suaranya membuat orang tak ingin berhenti mengikuti pembicaraannya. Pada saat tertentu, suara dan ungkapan-ungkapannya menyejukkan hati pendengarnya. Tapi pada saat yang lain, suaranya meninggi, menggelegar, bergetar, membuat mereka tertunduk, lalu mengoreksi diri sendiri.

Namun jangan dikira kelebihannya hanya pada penampilan fisik dan kemampuan bicara. Materi yang dibawakannya bukan bahan biasa yang hanya mengandalkan retorika, melainkan penuh dengan pemahaman-pemahaman baru, sarat dengan informasi penting, dan ditopang argumentasi-argumentasi yang kukuh.

Wajar, karena ia memang memiliki penguasaan ilmu agama yang mendalam dalam berbagai cabang keilmuan, ditambah pengetahuannya yang tak kalah luas dalam ilmu-ilmu modern, juga kemampuannya menyentuh hati orang, membuat para pendengarnya bukan hanya memperoleh tambahan ilmu dan wawasan, melainkan juga mendapatkan semangat dan tekad yang baru untuk mengoreksi diri dan melakukan perubahan.

Itulah sebagian gambaran al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri, sosok ulama dan dai muda yang nama dan kiprahnya sangat dikenal di berbagai negeri muslim, bahkan juga di dunia Barat. Ia memang sosok yang istimewa. Pribadinya memancarkan daya tarik yang kuat. Siapa yang duduk dengannya sebentar saja akan tertarik hatinya dan terkesan dengan keadaannya. Bukan hanya kalangan awam, para ulama pun mencintainya. Siapa sesungguhnya tokoh ini dan dari mana ia berasal? 


Kelahiran dan Nasab Al-Habib Ali Al-Jufri

Al-Habib Ali al-Jufri lahir di kota Jeddah, Arab Saudi, menjelang Fajar, pada hari Jum’at 16 April 1971 (20 Shafar 1391 H). Ayahnya adalah al-Habib Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Alwi al-Jufri, sedangkan ibundanya Syarifah Marumah binti Hasan bin Alwi binti Hasan bin Alwi bin Ali al-Jufri.

Di masa kecil, ia mulai menimba ilmu kepada bibi dari ibundanya, seorang alimah dan arifah billah, Hababah Shafiyah binti Alwi bin Hasan al-Jufri. Wanita shalihah ini memberikan pengaruh yang sangat besar dalam mengarahkannya ke jalur ilmu dan perjalanan menuju Allah.


Pendidikan dan Guru-guru Al-Habib Ali Al-Jufri

Setelah itu ia tak henti-hentinya menimba ilmu dari para tokoh besar. Al-Quthb al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf adalah salah seorang guru utamanya. Kepadanya ia membaca dan mendengarkan pembacaan kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Tajrid al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, dan kitab-kitab penting lainnya. Cukup lama al-Habib Ali belajar kepadanya, sejak usia 10 tahun hingga berusia 21 tahun.

Ia juga berguru kepada al-Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad, ulama terkemuka dan penulis karya-karya terkenal. Diantara kitab yang dibacanya kepadanya adalah Idhah Asrar `Ulum al-Muqarrabin.

Prof. Dr. As-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki juga salah seorang gurunya. Kepadanya ia mempelajari kitab-kitab musthalah hadits, ushul, dan sirah. Sedangkan kepada al-Habib Hamid bin Alwi bin Thahir al-Haddad, ia membaca al-Mukhtashar al-Lathif dan Bidayah al-Hidayah.

Ia pun selama lebih dari empat tahun menimba ilmu kepada al-Habib Abu Bakar al-`Adni bin Ali al-Masyhur, dengan membaca dan mendengarkan kitab Sunan Ibnu Majah, ar-Risalah al-Jami`ah, Bidayah al-Hidayah, al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah, Tafsir al-Jalalain, Tanwir al-Aghlas, Lathaif al-Isyarat, Tafsir Ayat al-Ahkam, dan Tafsir al-Baghawi.

Pada tahun 1412 H (1991 M) al-Habib Ali mengikuti kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyyah Universitas Shan`a, Yaman, hingga tahun 1414 H (1993 M). Kemudian ia menetap di Tarim, Hadhramaut. Di sini ia belajar dan juga mendampingi al-Habib Umar bin Hafidz sejak tahun 1993 hingga 2003. Kepadanya, al-Habib Ali membaca dan menghadiri pembacaan kitab-kitab Shahih al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, Adab Suluk al-Murid, Risalah al-Mu`awanah, Minhaj al-`Abidin, al-`Iqd an-Nabawi, ar-Risalah al-Qusyairiyyah, al-Hikam, dan sebagainya.

Selain kepada mereka, ia pun menimba ilmu kepada para tokoh ulama lainnya, seperti asy-Syaikh Umar bin Husain al-Khathib, asy-Syaikh as-Sayyid Mutawalli asy-Sya`rawi, asy-Syaikh Ismail bin Shadiq al-Adawi di al-Jami` al-Husaini dan di al-Azhar asy-Syarif, Mesir, juga asy-Syaikh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim. Disamping itu, al-Habib Ali juga mengambil ijazah dari 300-an orang syaikh dalam berbagai cabang ilmu.    


Dakwah Al-Habib Ali Al-Jufriy

Berbekal berbagai ilmu yang diperolehnya, ditambah pengalaman berkat tempaan para gurunya, ia pun mulai menjalankan misi dakwahnya. Aktivitas dakwahnya dimulai pada tahun 1412 H/1991 di kota-kota dan desa-desa di negeri Yaman. Ia kemudian berkelana dari satu negeri ke negeri lain. Perjalanannya ke mancanegara dimulai pada tahun 1414 H/1993 dan terus berlangsung hingga kini.

Berbagai kawasan negara dikunjunginya. Misalnya negara-negara Arab, yakni Uni Emirat Arab, Yordania, Bahrain, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Oman, Qatar, Kuwait, Lebanon, Libya, Mesir, Maroko, Mauritania, Jibouti.

Negara-negara non-Arab di Asia, diantaranya Indonesia, Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, Sri Lanka. Di Afrika, diantaranya ia mengunjungi Kenya dan Tanzania. Sedangkan di Eropa, dakwahnya telah merambah Inggris, Jerman, Prancis, Belgia, Belanda, Irlandia, Denmark, Bosnia Herzegovina, dan Turki.

Ia pun setidaknya telah empat kali mengadakan perjalanan dakwah ke Amerika Serikat; pertama tahun 1998, kedua tahun 2001, ketiga tahun 2002, dan keempat tahun 2008. Disamping juga mengunjungi Kanada

Perjalanan dakwahnya ke berbagai negeri membawa kesan tersendiri di hati para jama’ah yang mendengarkan penjelasan dan pesan-pesannya. Di Jerman, ia membuat jama’ah masjid sebanyak tiga lantai menangis tersedu-sedu mendengar taushiyahnya. Orang-orang yang tinggal di Barat, yang cenderung keras hatinya, ternyata bisa lunak di tangan al-Habib Ali.

Di Amerika ada yang merasa bahwa memandang dan berkumpul bersama al-Habib Ali al-Jufri selama satu malam cukup untuk memberinya tenaga dan semangat untuk beribadah selama tiga bulan. Di Inggris ia terlibat pelaksanaan Maulid Nabi di stadion Wembley. Di Denmark ia  mengadakan jumpa pers dengan kalangan media massa.

Di Darul Musthafa, Tarim, Hadhramaut setiap tahun, bulan Rajab-Sya`ban, ia menjadi pembicara rutin Daurah Internasional. Ia pun merangkul para dai muda di Timur Tengah, serta membimbing dan memberikan petunjuk kepada para pemuda yang berbakat. Ia suka duduk bersama para pemuda dan mengadakan dialog terbuka secara bebas.

Dalam berdakwah, ia aktif menjalin hubungan dengan berbagai kalangan masyarakat. Ia memasuki kalangan yang paling bawah, seperti suku-suku di Afrika, hingga kalangan paling atas, seperti keluarga keamiran Abu Dhabi. Ia berhubungan dengan kalangan awam hingga kalangan yang paling alim, seperti asy-Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi (mufti de facto negeri Syria), asy-Syaikh Ali Jum`ah (mufti Mesir), dan ulama-ulama besar lainnya.

Banyak sekali bintang film, artis dan aktris, para seniman, di Mesir yang bertaubat di tangannya. Artis yang sebelumnya “terbuka” jadi berhijab, yang dulunya aktor jadi berdakwah.

Kini ia pun secara rutin tampil di televisi. Penyampaian dakwahnya menyentuh akal dan hati. Cara dakwahnya yang sejuk dan simpatik, pandangan-pandangannya yang cerdas dan tajam, pembawaannya yang menarik hati, membuatnya semakin berpengaruh dari waktu ke waktu.

Kemunculan al-Habib Ali di dunia dakwah membawa angin segar bagi kaum muslimin, terutama kalangan Sunni. Cara dakwahnya berbeda dengan dakwah kalangan yang cenderung keras, kasar, dan kering dari nilai-nilai ruhani, serta cenderung menyerang orang lain, dan banyak menekankan pada model konflik ketimbang harmoni dengan kalangan non-muslim. Bahkan mereka memandang masyarakat muslim sekarang sebagai reinkarnasi dari masyarakat Jahiliyah.


Tragedi Kartun Nabi

Beberapa waktu lalu koran Denmark kembali menampilkan kartun Nabi. Berbeda dengan reaksi sebagian kalangan muslim yang penuh amarah dan tindak kekerasan di dalam menanggapinya, al-Habib Ali al-Jufri dengan kesejukan hatinya serta ketajaman pandangan, pikiran, akal, dan mata batinnya telah melakukan serangkaian langkah yang bervisi jauh ke depan. Ia berharap, langkah-langkahnya akan berdampak positif bagi kaum muslimin, terutama yang tinggal di negara-negara Barat, serta akan menguntungkan dakwah Islam di masa kini dan akan datang.

Bukannya melihat kasus ini sebagai ancaman dan bahaya terhadap Islam dan muslimin, al-Habib Ali justru secara cerdas melihat hal ini sebagai peluang dakwah yang besar untuk masuk ke negeri Eropa secara terbuka, untuk menjelaskan secara bebas tentang Rasulullah Saw. dan berdialog dengan penduduk serta kalangan pers di sana tentang agama ini dan tentang fenomena muslimin. Singkatnya, ia justru melihat ini sebagai peluang dakwah yang besar.

Tentu saja cara pandang al-Habib Ali juga disebabkan pemahamannya yang sangat dalam tentang karakter masyarakat Barat. Salah satu karakter terbesar mereka adalah mempunyai rasa ingin tahu yang besar, berpikir rasional, dan memiliki sikap siap mendengarkan. Karakter-karakter umum ini, ditambah sorotan perhatian kepada Rasulullah Saw., merupakan peluang besar untuk memberikan penjelasan. Mereka ingin tahu tentang Nabi Saw., berarti mereka dalam kondisi siap mendengarkan. Mereka rasional, berarti siap untuk mendapatkan penjelasan yang logis.

Apabila kita bisa menjelaskan tentang Nabi Saw. dan agama ini kepada mereka dengan cara yang menyentuh akal dan hati mereka, maka kita justru akan bisa mengubah mereka. Dari yang anti menjadi netral, yang netral menjadi pro, yang pro menjadi muslim, yang antipati menjadi simpati, yang keras menjadi lembut, yang marah menjadi dingin, yang acu menjadi penasaran. Sekaligus pula mencegah simpatisan menjadi oposan, pro menjadi anti dan seterusnya.

Karena karakter masyarakat Barat yang terbuka, toleran, lebih bisa menerima keanekaragaman budaya, maka peluang dakwah terbuka bebas. Inilah ranah ideal untuk dakwah Islamiyah. Tentu saja ini bagi para da`i yang berfikiran terbuka, berakal lurus dan tajam, cerdas memahami situasi kondisi, dan memiliki dada yang cukup lapang dalam menerima tanggapan negatif, serta giat melakukan pendekatan yang konstruktif dan positif, serta memiliki akhlak yang mulia. Di sinilah al-Habib Ali al-Jufri masuk dengan dakwahnya yang dialogis. 


Terjalinnya Silaturahim dan Bersatu dalam Mahabbah

Tentu saja untuk berani melakukan dialog dengan pers Barat dibutuhkan kecerdasan dan keluasan berpikir serta pemahaman atas pola berpikir masyarakat Barat. Al-Habib Ali dan para dai ini, selain sangat memahami masyarakat Barat, juga memiliki tim khusus yang melakukan penelitian-penelitian secara ilmiah dan mendetail tentang subyek apapun yang dibutuhkan.

Ketika melihat berbagai reaksi yang ada atas kasus kartun Nabi, al-Habib Ali menemukan satu benang merah: “Semua kelompok dalam masyarakat Islam marah”. Kemarahan yang mencerminkan masih adanya sisa-sisa mahabbah kepada Nabi Saw. ini bersifat lintas madzhab, lintas thariqah, lintas jama’ah, bahkan lintas aqidah.

Al-Habib Ali melihat ini sebagai peluang pula untuk menyatukan visi kaum muslimin dan menyatukan barisan mereka. Kalau kaum muslimin tak bisa bersatu dalam madzhab, thariqah, bahkan aqidah, mereka ternyata bisa disatukan dalam mahabbah dan pembelaan terhadap Nabi Saw.

Langkah al-Habib Ali tidak berhenti di sini. Ia membentuk sekelompok dai yang dikenal dengan akhlaqnya, keterbukaan pikiran dan keluasan dadanya, serta kesiapannya untuk melakukan dialog secara intensif dan bebas dengan masyarakat Barat. Kemudian ia bersama kelompok dai ini mengadakan safari intensif keliling Eropa bertemu dengan kalangan pers dan berbagai kalangan lainnya untuk memberikan penjelasan.

Al-Habib Ali dan para dai tersebut mengambil momen ini untuk memupuk cinta muslimin kepada Rasulullah Saw., untuk menghidupkan lagi tradisi-tradisi yang lama mati, dan untuk mengajak muslim berakhlaq mulia sebagaimana akhlaq Nabinya, sambil mengingatkan kaum muslimin yang berdemo agar menjaga adab dan akhlaq Nabi Saw.

Ia juga menyeru kepada kaum muslimin untuk memanfaatkan momen ini dengan menghadiahkan buku-buku tentang Nabi Muhammad Saw. kepada para tetangga dan kawan-kawan mereka yang non-muslim, serta untuk membuka topik untuk menjelaskan kepada mereka tentang Rasulullah dan kedudukan beliau di lubuk hati kaum muslimin.

Bukan hanya itu. Ia pun memanfaatkan momen ini untuk menyatukan dai-dai sedunia dalam satu shaf dan mempelopori berdirinya organisasi dai sedunia. Yang menarik, dalam semua tindakan dan langkahnya ini, ia senantiasa menggandeng, berkoordinasi, dan bermusyawarah serta melibatkan para ulama besar dunia, seperti asy-Syaikh Muhammad Sa`id Ramadhan al-Buthi, asy-Syaikh Ali Jum`ah (mufti Mesir), dan ulama-ulama besar lainnya. Sehingga gerakan ini menjadi gerakan kolektif, milik bersama, bukan milik al-Habib Ali saja.

Sebagai salah satu dampak dari gerakan ini adalah terjalinnya silaturahim dan tersambungnya komunikasi yang sebelumnya terputus atau kurang intensif di antara para ulama dan dai muslimin karena mereka menjadi giat berkomunikasi lintas madzhab, pemikiran, kecenderungan pribadi, bahkan lintas aqidah.

Gerakan yang dipelopori al-Habib Ali ternyata mampu mengikat sejumlah besar pemuka Islam dari berbagai latar belakang yang berbeda ke dalam satu shaf lurus yang panjang untuk bersama-sama menanggapi sebuah isu internasional dengan satu suara bulat yang tidak terpecah-pecah.  Kita berharap, ini tidak akan berakhir, bahkan justru menjadi sebuah awal dari persatuan ulama dan dai-dai muslimin. Aamiin yaa Ilaahanaa Ilaahal Ma’buud.

Disadur dari berbagai sumber

Sya’roni as-Samfuriy, Indramayu 10 Rabi’ul Awwal 1434 H

Minggu, 20 Januari 2013

TELADAN BAGI PARA TOKOH



TELADAN BAGI PARA TOKOH



Kekompakan Habib Ahmad bin Alathas dan Habib Hasyim bin Yahya

Dua ulama ‘Arif Billah ini hidup satu masa. Dan bertempat di lokasi yang tidak berjauhan; sama-sama tinggal di Pekalongan. Dikisahkan saking kompaknya, ketika Habib Hasyim hendak melakukan satu kegiatan atau satu rencana Habib Hasyim selalu meminta ijin dan saran dari Habib Ahmad bin Thalib Alathas.

Pun demikian sebaliknya dengan Habib Ahmad bin Thalib. Jika belum meminta restu dari Habib Hasyim, Habib Ahmad tidak akan berani melangkah.

Kalau Habib Hasyim sudah datang ke tempat Maulid, sementara Habib Ahmad bin Thalib belum datang Habib Hasyim menangguhkan acara, sampai datangnya Habib Ahmad bin Thalib. Begitu juga dengan Habib Ahmad bin Thalib, jika beliau datang pertama, sementara Habib Hasyim belum datang, beliau urung memulai. Kekompakkan keduanya terlihat ketika seorang Habib asal Hadhramaut hendak pamitan pada keduanya.

Dikisahkan,  Pada permulaan Abad-20 Habib Muhammad Ali Muhsin datang dari Hadhramaut ke Indonesia, tepatnya kota Pekalongan. Setelah tinggal di Indonesia sang Habib merasa tidak kerasan.

Ketika hendak pamitan, beliau merasa kebingungan. Mana yang pertama kali didatangi, Habib Ahmad Bin Thalib Alathas ataukah Habib Hasyim bin Umar bin Yahya. “Habib Ahmad atau Habib Hasyim”, terus saja sambil jalan berfikir demikian.

Ketika beliau datang kerumah Habib Ahmad. Habib Muhsin belum sempat bicara, Habib Ahmad berseloroh; “Ya Muhsin ilaa Habib Hasyim bn Umar awwalan, hai Muhsin pamitan ke Habib Hasyim dahulu”.

Langsung saja beliau  datang ke Habib Hasyim. Ketika berpamitan ke Habib Hasyim, Habib Hasyim mengatakan; “Kuburanmu di sini, dan di sini kotamu, nanti kamu yang menggantikan kami semua”.

Habib Muhsin datang ke Habib Ahmad, Habib Ahmad berkata; “Apa yang dikatakan Habib Hasyim adalah perkataanku.”

Kemudian hari terbukti, ketika Habib Ahmad wafat Habib Muhsin yang menggantikan Habib Ahmad mengajar di Salafiyah bersama Habib Muhammad Abdurrahman. Ketika Habib Hasyim wafat yang menggantikan menjadi imam  Masjid An-Nur adalah Habib Muhsin.


Kunjungi: http://www.habiblutfiyahya.net/index.php?option=com_content&view=article&id=108%3Akekompakan-habib-ahmad-bin-thalib-dan-habib-hasyim-bin-umar-teladan-bagi-para-tokoh&catid=38%3Ahikmah&Itemid=53&lang=id

Husnudzdzann (Berperasangka Baik) adalah Ibadah Terindah



Husnudzdzann (Berperasangka Baik) adalah Ibadah Terindah



Oleh: KH. Ahmad Madzkur Awab 

Dalam taushiyahnya al-Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan  mengutip Hadits Rasul Saw. yang bersabda:

 أذكروا محاسن موتاكم 

“Sebutkanlah hal-hal kebaikan pada orang-orang yang telah wafat.”

Jangan malah mencaci atau bahkan menggunjingi yang jelas pendahulu kita apalagi tokoh ummat adalah orang yang lebih terdahulu berkiprah untuk ummat. Sebelum kita
mau melaknat atau mencaci iblis sekalipun kita ini dapat apa? Walaupun jutaan kali, kata Habib Jindan.

Apalagi yang dicaci adalah orang mukmin muslim yang juga belum tentu kita lebih afdhal atau lebih selamat darinya. Akhlaq Rasul Saw. adalah Akhlaq al-Quran. Bagaimana kalau kita mau mencontoh Nabi? Dalam firman Allah Swt. kita baca bagaimana cermin seorang mukmin:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Wahai Rabb Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr ayat 10)

Jadi marilah kita jangan mencaci para ulama, kalau kita mau mencontoh Nabi Saw. Coba kita ingat saat Nabi Saw. dan para sahabatnya diembargo sampai makan dedaunan pohon dan dilempari kotoran disaat melakukan sholat, saat melewati satu jalan dilempari batu bahkan hampir dibunuh dikatain tukang sihir sampai disayembarakann siapa yang dapat memenggal kepala beliau Saw. akan dikasih seratus onta.

Wah kalau onta-onta itu diuangkan menjadi milyaran, tapi bagaimana sikap beliau Saw. ketika Fathu Makkah apa beliau Saw. mencincang-cincang orang tadi? Menyiksa orang yang menghina Islam dan Rasul tidak? Tapi bagaimanakah Nabi membalas mereka dengan berkata pada mereka saat Fathu Makkah:

ما تظنون أني فاعل بكم

“Apa yang kamu sangka atau kamu kira-kirakan tentang sesuatu yang akan aku lakukan pada kalian sekarang?”

Mereka menjawab:

أنت كربم ابن الكريم

“Engkau pemurah hati yang mulia dan keturunan para pemurah hati.”

Hehehe mana kok sekarang gak bilang Nabi Saw. tukang sihir atau gila atau pendusta? Begitulah kalau sudah posisi di bawah, tapi bagaimana Nabi Saw. mendengar jawaban tadi, apa Nabi Saw. malah menyiksa mereka atau mengungkitlah minimal apa yang mereka perbuat pada Nabi Saw.? Allahumma sholli ‘alaa Muhammad... tidak!!! Tidak!!! Akan tetapi Nabi Saw. berkata:

إذهبوا وأنتم الطلقاء

“Pergilah kalian... kalian semua bebas dan aman.” 

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad...

Begitu indah akhlaq Nabi Saw. dan akhlaq seorang mukmin. Dan begitu indah ibadah berhusnudzdzann, gak capek tapi dapat pahala daripada hatinya gak saliim “Yauma laa yanfa'u maalun walaa banuun illaa man atalloha biqolbin saliim.”

Hati yang saliim atau selamat di sini bukannya hati yang selamat dari kangker kronis atau apa segala macam, itu mah mati kemudian sembuh hehehe. Nah kalau penyakit hati ini, di dunianya capek di akhirat apalagi. Semisal riya’ dan sum'ah, capeeeeeek kan? capek badan ini kalau ada ustadz sholatnya lama sampai sepuluh menit hehehe. Iri, dengki, capeeek gak? capeeek kan?

Jadi marilah bersihkan hati kita dari iri, dengki, hasud dll. itu penyakit dari hidup bahayanya sampai mati.


Ditulis ulang oleh: Sya’roni As-Samfuriy, Indramayu 9 Rabi’ul Awwal 1434 H