Minggu, 09 Desember 2012

Kisah Teladan Kyai Haji Imam Zarkasyi



Kisah Teladan Kyai Haji Imam Zarkasyi
Oleh: KH. Hasanain Juaini (Pengasuh PM. Nurul Haromain NTB)



Suatu keyika KH. Imam Zarkasyi, di kamar tidur beliau yang selalu tergelar sajadah yang diatasnya ada untaian tasbih. Saya tahu tahu karena sering menyapu ruangan itu. Allahumma saya bersyukur dapat mengabdikan hidupku untuk beliau.
Di belakang sajadah itu dekat jendela ada kertas hitam bertuliskan tinta emas berbunyi: "Sehari harus bekerja 18 jam. Istirahat adalah mengganti jenis pekerjaan".
Di luar jam mengajar beliau keluar rumah, memakai kaos oblong warna putih cap kodok dan mengalungkan handuk kecil untuk menyeka keringat. Biasanya membawa alat-alat pertukangan seperti martil, obeng atau tang. Keliling melihat-lihat papan tulis yang tergantung tidak rapi maka diluruskan, memeriksa meja bangku yang ringkih maka dipasaknya, pintu-pintu kelas yang engselnya rusak dicatat dan diperintahkan untuk diperbaiki.
Jika ada kelas yang kosong, maka beliau masuk unutk mengajar. Jika ada sebelahnya lagi yang kosong maka ditingggalkan songkoknya dikelas yang dimasuki terdahulu dan beliau memasuki kelas kosong yang ribut itu. Sering terjadi beliau langsung pulang setelah mengisi kelas dengan amat sangat serius, maka songkok hitamnya ketinggalan di kelas sehingga tak satupun santri yang berani meninggalkan kelas sebelum beliau datang kembali mengambil songkoknya (sekalipun sudah jam pulang). Ketua kelas harus mendatangi beliau dan bertanya apakah beliau akan masuk kembali agar kami menunggunya?
Kalau berpapasan dengan santri yang tidak membawa buku maka beliau akan mencegat dan menanyakan: “Mengapa tidak membawa buku?”
Kalau bertemu dengan anak yang membawa buku tapi tidak membacanya beliau juga bertanya: “Mengapa buku dibawa kok tidak dibaca?”
Satu hari saya berpapasan dengan beliau dan didepan saya ada sobekan koran. Beliau perintahkan "Pungut !".
Sayapun memungutnya dan hendak membuangnya ke tong sampah, namun beliau memerintahkan saya untuk membacanya dahulu. Karena korannya sudah lama dan usang sayapun menjawab: “Maaf  Pak Yai ini koran lama.”
Dengan pandangan mata yang teramat tajam beliau menatap saya, rasa merindingnya masih sampai sekarang. Beliau bilang dengan lirih: “Yaa bunayya… korannya memang lama, tapi apa kamu sudah membacanya atau belum?”
Kejadian itu did epan Perdos (Perumahan Dosen, berada di belakang rumah lama Keluarga Kyai Imam Zarkasyi). Peristiwanya tidak berhenti sampai di situ. saya diminta duduk dan membaca potongan koran lusuh itu. Ketika selesai saya pun bangkit minta diri, tapi beliau meminta potongan koran itu dan mulai menanyai saya hampir lima puluhan pertanyaan yang bersumber dari satu alinea saja bahan bacaan itu, tentu saja saya KO berat.
Di akhir peristiwa itu beliau berkata: “Anak Lombok ya? Makanya kalau membaca jangan setengah-setengah. Belum lima menit saja sudah lupa. Baca yang bagus. Mocone sing telaten."
Keesokan harinya dalam wejangan untuk kelas Lima (saya kelas lima waktu itu, tahun 1981) beliau menceritakan kasus itu dan menegaskan: "Di dalam rumah saya ada aturan, bahwa anak-anak saya yang tidak sedang membaca akan disuruh bekerja terus...terus...terus....sampai dia meminta waktu istirahat dan istirahatnya adalah untuk membaca. Hanya anak yang sakit saja yang boleh tidak membaca dan tidak bekerja."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar